Selasa, 17 Juni 2008

Nasihat

Surat Singkat (SMS: Short Message Service) dari Saudaraku …

Wuhaib bin Ward: Sikap zuhud di dunia adalah dengan tidak sedih terhadap sesuatu yang hilang dan terlalu gembira dengan sesuatu yang didapatkan. (Hilayatul Auliyaa’)

Yahya bin Mu’adz berkata, “Obat sakitnya hati ada lima: membaca Qur’an dengan merenunginya, mengosongkan perut, melaksanakan sholat malam,ketundukan pada waktu sahur, dan menemani orang shalih.” Ya Akhi…sudahkah kita mengobati hati yang sakit ini?

3 hal dalam hidup yang jangan disiakan: Waktu, Usia, Kesempatan.
3 hal dalam kehidupan jangan sampai hilang: Iman, Kehormatan, Optimisme.
3 hal yang berharga: kejujuran, Kepercayaan, Persahabatan.

Syaikh Sa’id al Qahthani rahimahullah berkata, “Aku sadar hidup ini sebuah perjalanan panjang... Oleh sebab itu, aku harus mencari teman yang baik dalam perjalanan.”

Allah Ta’ala menyempitkan dunia bagi orang-orang yang shalih dan melapangkannya bagi musuh-musuh-Nya, dimana musuh-musuh-Nya mengira bahwa itu adalah karunia dari-Nya. Mereka lupa apa yang telah Allah takdirkan terhadap Rasul-Nya, beliau mengikatkan batu di perut-Nya karena menahan lapar.

Tsabbataballahu waiyyak. Rafa’akallahu darajaat bil ibtilaa’. Akhil kariim, berbaiksangkalah kepada Allah, sungguh Allah tidak menyia-nyiakan amal orang yang berbuat shalih.

Qola Imam Syafi’i, “Saya mencintai orang-orang shalih walaupun saya tidak seperti mereka. Semoga dengan mencintai mereka saya mendapat syafaat-Nya…”

Ajaban liamril mu’min. Inna amrohu kuliah khairun. Inna ashobathu sarraa u syakaro fa kaana khairan lah, wa in ashobathu dharra u shabarafa kaanakhairan lah. Wa laysa dzalika li ahadin illa lil mu’min. Sungguh menakjubkan perkara seorang mu’min, semua perkaranya adalah baik. Jika mendapatkan kesenangan dia bersyukur, maka halitu baik baginya. Jika mendapatkan kesulitan dia bersabar, maka hal itu baik baginya. Dan hal itu tidak terdapat kecuali pada diri seorang mu’min.

Barangsiapa yang bertaqwa dan bersabar, Allah tidak akan menyia-nyiakan pahalanya. Antum sudah hafal hadits dunia adalah neraka bagi orang mukmin? Ayo dihafal, orang Yahudi aja hafal kok...

Sabtu, 12 April 2008

Al Qur'an

Faedah Seputar Basmalah
Kamis, 12 2008 l Disadur sesuai dengan aslinya dari www.muslim.or.id

Tafsir Basmalah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin berkata: "Tafsirnya adalah: Sesungguhnya seorang insan meminta tolong dengan perantara semua Nama Allah. Kami katakan: yang dimaksud adalah setiap nama yang Allah punya. Kami menyimpulkan hal itu dari ungkapan isim (nama) yang berbentuk mufrad (tunggal) dan mudhaf (disandarkan) maka bermakna umum. Seorang yang membaca basmalah bertawassul kepada Allah ta'ala dengan menyebutkan sifat rahmah. Karena sifat rahmah akan membantu insan untuk melakukan amalnya. Dan orang yang membaca basmalah ingin meminta tolong dengan perantara nama-nama Allah untuk memudahkan amal-amalnya." (Shifatush Shalah, hal. 64).

Kitabullah Diawali Basmalah

Penulisan Al-Qur'an diawali dengan basmalah. Hal itu telah ditegaskan tidak hanya oleh seorang ulama, di antara mereka adalah Al Qurthuby yarhamuhullah di dalam tafsirnya. Beliau menyebutkan bahwa para sahabat radhiyallahu 'anhum telah sepakat menjadikan basmalah tertulis sebagai ayat permulaan dalam Al-Qur'an, inilah kesepakatan mereka yang menjadi permanen -semoga Allah meridhai mereka- dan Al Hafizh Ibnu Hajar yarhamuhullah pun menyebutkan pernyataan serupa di dalam Fathul Baari (Ad Dalaa'il Wal Isyaaraat 'ala Kasyfi Syubuhaat, hal. 9).

Teladan Nabi

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam apabila menulis surat memulai dengan bismillaahirrahmaanirrahiim (lihat Shahih Bukhari 4/402 Kitabul Jihad Bab Du'a Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ilal Islam wa Nubuwah wa 'an laa Yattakhidza Ba'dhuhum Ba'dhan Arbaaban min duunillaah wa Qauluhu ta'ala Maa kaana libasyarin 'an yu'tiyahullaahu 'ilman ila akhiril ayah, Fathul Bari 6/109 lihatlah perincian tentang hal ini di dalam Zaadul Ma'aad fii Hadyi Khairil 'Ibaad karya Ibnul Qayyim 3/688-696, beliau menceritakan surat menyurat Nabi kepada para raja dan lain sebagainya (Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 17). Di dalam Kitab Bad'ul Wahyi Imam Bukhari menyebutkan hadits: "Bismillahirrahmaanirrahiim min Muhammadin 'Abdillah wa Rasuulihi ila Hiraqla 'Azhiimir Ruum..." (Shahih Bukhari no. 7, Shahih Muslim no. 1773 dari hadits Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhuma, lihat Hushuulul Ma'muul, hal. 9, lihat juga Ad Dalaa'il Wal Isyaaraat 'ala Kasyfi Syubuhaat, hal. 9).

Hadits Tentang Keutamaan Basmalah

Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata: "Adapun hadits-hadits qauliyah tentang masalah basmalah, seperti hadits, 'Kullu amrin dzii baalin laa yubda'u fiihi bibismillaahi fahuwa abtar.' hadits-hadits tersebut adalah hadits yang dilemahkan oleh para ulama." Hadits ini dikeluarkan oleh Al Khathib dalam Al Jami' (2/69,70), As Subki dalam Thabaqaat Syafi'iyah Al Kubra, muqaddimah hal. 12 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, tetapi hadits itu adalah hadits dha'ifun jiddan (sangat lemah) karena ia merupakan salah satu riwayat Ahmad bin Muhammad bin Imran yang dikenal dengan panggilan Ibnul Jundi. Al Khathib berkata di dalam Tarikh-nya (5/77): 'Orang ini dilemahkan riwayat-riwayatnya dan ada celaan pada madzhabnya.' Maksudnya: karena ia cenderung pada ajaran Syi'ah. Ibnu 'Iraq berkata di dalam Tanziihusy Syari'ah Al Marfuu'ah (1/33): 'Dia adalah pengikut Syi'ah. Ibnul Jauzi menuduhnya telah memalsukan hadits.' Hadits ini pun telah dinyatakan lemah oleh Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah sebagaimana dinukil dalam Futuhaat Rabbaniyah (3/290) silakan periksa Hushuulul Ma'muul, hal. 9). Adapun hadits: 'Kullu amrin laa yubda'u fiihi bibismillaahiirahmaanirrahiim fahuwa ajdzam' adalah hadits dha'if, didha'ifkan Syaikh Al Albani dalam Dha'iful Jaami' 4217 (lihat catatan kaki Tafsir Al-Qur'an Al 'Azhim tahqiq Hani Al Hajj, 1/24).

Hikmah Memulai dengan Basmalah

Hikmah yang tersimpan dalam mengawali perbuatan dengan bismillahirrahmaanirraahiim adalah demi mencari barakah dengan membacanya. Karena ucapan ini adalah kalimat yang berbarakah, sehingga apabila disebutkan di permulaan kitab atau di awal risalah maka hal itu akan membuahkan barakah baginya. Selain itu di dalamnya juga terdapat permohonan pertolongan kepada Allah ta'ala (lihat Syarh Kitab Kasyfu Syubuhaat Syaikh Shalih Al-Fauzan, hal. 17). Selain itu basmalah termasuk pujian dan dzikir yang paling mulia (lihat Taudhihaat Al Kasdalamyifaat, hal. 48).

Apakah Basmalah Termasuk Al Fatihah ?

Syaikh Al 'Utsaimin berkata: "Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Ada di antara mereka yang berpendapat ia adalah termasuk ayat dari Al Fatihah dan dibaca dengan keras dalam shalat jahriyah (dibaca keras oleh imam) dan mereka berpandangan tidak sah orang yang shalat tanpa membaca basmalah karena ia termasuk surat Al Fatihah. Dan ada pula di antara mereka yang berpendapat bahwa ia bukan bagian dari Al Fatihah namun sebuah ayat tersendiri di dalam Kitabullah. Pendapat inilah yang benar. Dalilnya adalah nash serta konteks isi surat tersebut." Kemudian beliau merinci alasan beliau (lihat Tafsir Juz 'Amma, hal. 9 cet Darul Kutub 'Ilmiyah).

Sahkah Shalat Tanpa Membaca Basmalah ?

Dari Anas radhiyallahu 'anhu: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar mengawali shalat dengan membaca Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamiin (Muttafaqun 'alaihi). Muslim menambahkan: Mereka semua tidak membaca bismillaahirrahmaanirrahiim di awal bacaan maupun di akhirnya. Sedangkan dalam riwayat Ahmad, Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah Anas berkata: Mereka semua tidak mengeraskan bacaan bismillaahirrahmaanirrahiim. Di dalam riwayat lainnya dalam Shahih Ibnu Khuzaimah dengan kata-kata: Mereka semua membacanya dengan sirr (pelan)

Diantara faidah yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah:

  1. Tata cara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para khulafa'ur rasyidin membuka bacaan shalat dengan alhamdulillaahi rabbil 'aalamiin.
  2. Hadits ini menunjukkan bahwa basmalah bukan termasuk bagian awal dari surat Al Fatihah. Oleh sebab itu tidak wajib membacanya beriringan dengan surat ini. Akan tetapi hukum membacanya hanyalah sunnah sebagai pemisah antara surat-surat, meskipun dalam hal ini memang ada perselisihan pendapat ulama.

Para imam yang empat berbeda pendapat tentang hukum membaca basmalah:

  1. Imam Abu Hanifah, Syafi'i dan Ahmad berpendapat bacaan itu disyari'atkan di dalam shalat.
  2. Imam Malik berpendapat bacaan itu tidak disyari'atkan untuk dibaca dalam shalat wajib, baik dengan pelan maupun keras.

Kemudian Imam yang tiga (Abu Hanifah, Syafi'i dan Ahmad) berselisih tentang hukum membacanya:

  1. Imam Abu Hanifah dan Ahmad berpendapat membacanya adalah sunnah bukan wajib karena basmalah bukan bagian dari Al Fatihah.
  2. Imam Syafi'i berpendapat membacanya adalah wajib.
    (lihat Taudhihul Ahkaam, 1/413-414 cet. Dar Ibnul Haitsam)

Menjahrkan Basmalah dalam Shalat Jahriyah

Syaikh Ibnu 'Utsaimin ditanya: Apakah hukum menjahrkan (mengeraskan bacaan) basmalah? Beliau menjawab: "Pendapat yang lebih kuat adalah mengeraskan bacaan basmalah itu tidak semestinya dilakukan dan yang sunnah adalah melirihkannya karena ia bukan bagian dari surat Al Fatihah. Akan tetapi jika ada orang yang terkadang membacanya dengan keras maka tidak mengapa. Bahkan sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa hendaknya memang dikeraskan kadang-kadang sebab adanya riwayat yang menceritakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengeraskannya (HR. Nasa'i di dalam Al Iftitah Bab Qiro'atu bismillahirrahmaanirrahiim (904), Ibnu Hibban 1788, Ibnu Khuzaimah 499, Daruquthni 1/305, Baihaqi 2/46,58) Akan tetapi hadits yang jelas terbukti keabsahannya menerangkan bahwa beliau shallallahu 'alaihi wa sallam biasa tidak mengeraskannya (berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu: Aku pernah shalat menjadi makmum di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar dan tidak ada seorang pun di antara mereka yang memperdengarkan bacaan bismillahirrahmanirrahiim (HR. Muslim dalam kitab Shalat Bab Hujjatu man Qoola la yajharu bil basmalah (399)) Akan tetapi apabila seandainya ada seseorang yang menjahrkannya dalam rangka melunakkan hati suatu kaum yang berpendapat jahr saya berharap hal itu tidak mengapa." (Fatawa Arkanil Islam, hal. 316-317)

Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Bassaam mengatakan: "Syaikhul Islam mengatakan: Terus menerus mengeraskan bacaan (basmalah) adalah bid'ah dan bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan hadits-hadits yang menegaskan cara keras dalam membacanya semuanya adalah palsu." (Taudhihul Ahkaam, 1/414) Imam Ibnu Katsir mengatakan : "...para ulama sepakat menyatakan sah orang yang mengeraskan bacaan basmalah maupun yang melirihkannya..." (Tafsir Al-Qur'an Al 'Azhim, 1/22).

***

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Tingkat pembahasan: Dasar

Senin, 31 Maret 2008

Kaidah

Ilmu, Amal, Dakwah dan Sabar

31 Maret 2008 l Disadur dari buletin At-Tauhid, Redaksi Divisi Dakwah Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari


Pembaca yang budiman, kewajiban sebagai seorang muslim terhadap agamanya adalah mengilmui mengamalkan, mendakwahkan dan bersabar di dalamnya. Tanpa adanya keempat perkara ini, agama kita tidak akan tegak pada diri kita. Seorang yang memiliki ilmu namun tidak mau mengamalkannya dan mendakwahkannya seperti kaum Yahudi yang tidak mau mengamalkan ilmunya. Begitu pula, tidak mungkin bagi sesorang untuk mendakwahkan agamanya kecuali dibangun atas pondasi ilmu yang kokoh sebagaimana dakwah Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya serta orang-orang yang mengikuti beliau yang diabadikan dalam Al Qur’an, "Katakanlah inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak pada Alloh dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Alloh dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik" (Yusuf : 108).

Penetapan kewajiban berilmu, beramal, berdakwah dan bersabar

Alloh berfirman yang artinya, "Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih dan saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran" (Al Ashri : 1-3)

Imam Syafi'i mengatakan ‘Seandainya Alloh tidak menurunkan hujjah bagi makhluknya kecuali surat ini saja niscaya itu sudah mencukupi’. Syarat pertama manusia yang tidak merugi adalah mereka yang beriman. Sedangkan iman yang benar tidak akan dicapai kecuali dilandasi ilmu yang benar. Sehingga wajib bagi setiap orang untuk memiliki ilmu. Syarat kedua adalah beramal shalih. Amal shalih mencakup seluruh amal kebajikan, baik berupa amalan lahiriah seperti sholat maupun amalan batin seperti tawakkal, baik berupa perbuatan yang berkaitan dengan penunaian hak Alloh maupun hak para hamba-Nya yang wajib maupun yang sunnah. Syarat ketiga adalah saling menasihati dalam kebenaran, yaitu mengajak dan memberikan semangat dalam keimanan dan berbuat amal shalih. Syarat keempat adalah saling menasihati dalam kesabaran.

Ilmu dulu.... baru yang lain ….

Berilmu adalah kewajiban pertama kita sebelum melakukan segala sesuatu. Kita bisa membayangkan bagaimana kerusakan yang akan ditimbulkan oleh seorang yang tidak bisa mengendarai mobil yang nekad untuk mengendarainya. Maka jiwanya dan jiwa orang-orang yang ada dalam kendaraan tersebut bisa terancam. Maka dalam perkara agama, kerusakan yang ditimbulkan bukan sekedar mobil yang lecet, badan yang luka atau tewasnya satu-dua orang. Kerusakan yang ditimbulkan akibat perbuatan yang tidak dilandasi oleh ilmu diin, bahkan dapat mengakibatkan kebinasaan ummat manusia. Tidakkah kita melihat bagaimana Alloh ta'ala menghancurkan ummat-ummat terdahulu karena perbuatan syirik yang mereka lakukan. Sedangkan kesyirikan adalah kebodohan yang paling besar.

Imam Bukhori rohimahulloh membuat suatu bab dalam kitab shahihnya yaitu "Bab Ilmu Sebelum Perkataan dan Perbuatan". Beliau berdalil dengan firman Alloh ta'ala, "Maka ketahuilah bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Alloh dan mohon ampunlah atas dosa-dosamu" (Muhammad : 19). Alloh memulai ayat ini dengan perintah untuk berilmu terlebih dahulu sebelum kita mengatakan kalimat tauhid dan memohon ampun pada Alloh ta'ala. Hal ini dapat difahami bahwasanya perkataan dan amal shalih kita yang tidak sesuai dengan syari'at Islam tidak mungkin diterima oleh Alloh ta'ala. Dan seseorang tidak mungkin mengetahui apakah amal perbuatannya sesuai dengan syariat atau tidak kecuali dengan ilmu.

Amal sebagai konsekwensi ilmu.

Ketika kita telah mengetahui pentingnya ilmu, maka sebagai buah dan konsekwensi dari ilmu tersebut adalah beramal. Kita bisa bayangkan jika ada seorang yang sudah menguasai teori berlalu-lintas, menguasai teori dan trik-trik mengendarai kendaraan agar cepat dan selamat namun dia tidak mau mengendarai kendaraan tersebut. Apakah teori tersebut bermanfaat bagi dirinya? Begitupula ilmu agama yang telah kita pelajari tanpa kita amalkan maka tidak akan bermanfaat bagi kita karena Alloh akan menghisab tentang apa yang kita amalkan disamping apa yang kita ketahui. Barangsiapa yang beramal tanpa ilmu maka ia telah menyerupai kaum Nasrani dan barangsiapa yang berilmu tanpa mengamalkannya maka ia telah menyerupai kaum Yahudi.

Kiranya cukup bagi kita peringatan yang disampaikan oleh Rosululloh sholallohu 'alaihi wasallam tentang orang yang tidak mengamalkan ilmunya. "Didatangkan seseorang pada hari kiamat kemudian dia dilemparkan ke neraka sehingga terurai ususnya dan dia berputar sebagaimana kedelai berputar pada penggilingan. Kemudian berkumpullah para penghuni neraka disekelilingnya dan berkata, “Wahai fulan, apa yang menimpamu? Bukankah kamu dulu menyuruh kamu untuk berbuat baik dan mencegah kami dari kemungkaran?” Kemudian orang tersebut berkata, “Dahulu aku menyuruh beruat kebaikan tapi aku tidak melakukannya dan aku mencegah perbuatan munkar namun namun aku melakukannya" (HR Bukhori dan Muslim dari Usamah din Zaid).

Dakwah Ilalloh untuk memperbaiki ummat

Pembaca yang budiman, kewajiban kita setelah berilmu dan beramal adalah mendakwahi manusia agar kembali ke jalan Alloh ta'ala. Dengan ilmu dan amal shalih kita menyempurnakan diri kita sedangkan dengan dakwah terwujudlah perbaikan di tengah-tengah ummat. Maka dengan ketiga hal ini selamatlah seseorang dari kerugian sebagaimana yang dijanjikan oleh Alloh ta'ala.

Dakwah ilalloh harus dilandasi keikhlashan hanya mengharapkan wajah Alloh ta'ala, bukan untuk kepentingan pribadi, golongan, partai apalagi berdakwah hanya sekedar untuk sukses meraih kursi pemerintahan wal'iyadzubillah. Alloh subhanahu wa ta'ala berfirman, "Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" (An Nahl : 125).

Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin menyebutkan bahwa ilmu dan bashirah yang dibutuhkan dalam dakwah adalah pengetahuan tentang hukum syar'i, pengetahuan tentang cara berdakwah dan pengetahuan tentang keadaan obyek dakwah.

Marilah kita lihat bagaimana metode Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam dalam memerintahkan para shahabatnya untuk menjadikan tauhid sebagai prioritas utama dalam dakwah ketika mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman beliau bersabda, "Maka hendaklah hal pertama yang kamu sampaikan pada mereka adalah syahadat Laa ilaha Illallah (dalam riwayat lain, supaya mereka mentauhidkan Alloh)". (HR Bukhori dan Muslim)

Sabar, kunci akhir kebahagiaan…

Setelah kita mengetahui tiga kunci kebahagiaan berupa kewajiban berilmu, beramal dan berdakwah, maka kunci terakhir adalah kesabaran dalam menjalankan ketiga hal tadi. Alloh ta'ala menggambarkan kesabaran utusan-Nya dalam firman-Nya, "Dan sesungguhnya telah didustakan rosul-rosul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Alloh kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat Alloh. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rosul-rosul itu." (Al An'aam : 34)

Sabar ada tiga keadaan. Pertama sabar dalam menjalankan ketaatan pada Alloh ta'ala, kedua sabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan oleh Alloh dan ketiga sabar terhadap takdir Alloh yang terasa menyakitkan.

Pembaca yang budiman, demikianlah empat kunci kebahagiaan yang dapat menyelamatkan kita dari kerugian dunia dan akhirat, yaitu ilmu, amal shalih, dakwah dan sabar. Semoga Alloh subhanahu wa ta'ala menjadikan kita hamba yang senantiasa bersemangat untuk menuntut ilmu agama, memudahkan kita untuk mengamalkan apa yang telah kita ilmui, memberikan kita semangat untuk mendakwahkan kebenaran, dan menjaga kita untuk senantiasa ikhlash dalam berbuat dan senantiasa menjadi hamba yang bersabar. Amiin yaa mujibba saailin… (Amrullah Abu Fatah Al Bakasy).

Minggu, 30 Maret 2008

Aqidah

Memahami Takdir Illahi
Ahad, 30 Maret 2008 l Disadur sesuai dengan aslinya dari www.muslim.or.id

Beriman kepada Takdir

Kaum muslimin yang semoga dimuliakan oleh Allah ta'ala, salah satu rukun iman yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah beriman kepada takdir baik maupun buruk.

Perlu diketahui bahwa beriman kepada takdir ada empat tingkatan:

  1. Beriman kepada ilmu Allah yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada. Di antaranya seseorang harus beriman bahwa amal perbuatannya telah diketahui (diilmui) oleh Allah sebelum dia melakukannya.
  2. Mengimani bahwa Allah telah menulis takdir di Lauhul Mahfuzh.
  3. Mengimani masyi'ah (kehendak Allah) bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak-Nya.
  4. Mengimani bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu. Allah adalah Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan manusia.

Dalil dari tingkatan pertama dan kedua di atas adalah firman Allah ta'ala (yang artinya), "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah." (QS. Al Hajj [22]: 70). Kemudian dalil dari tingkatan ketiga di atas adalah firman Allah (yang artinya), "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At Takwir [81]: 29). Sedangkan untuk tingkatan keempat, dalilnya adalah firman Allah (yang artinya), "Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu perbuat." (QS. Ash-Shaffaat [37]: 96). Pada ayat 'Wa ma ta'malun' (dan apa saja yang kamu perbuat) menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah.

Macam-Macam Takdir

Takdir itu ada 2 macam:

[1] Takdir umum mencakup segala yang ada. Takdir ini dicatat di Lauhul Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari kiamat. Takdir ini umum bagi seluruh makhluk. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut, "Tulislah". Kemudian qalam berkata, "Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?" Allah berfirman, "Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat." (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho'if Sunan Abi Daud).

[2] Takdir yang merupakan rincian dari takdir yang umum. Takdir ini terdiri dari:

(a) Takdir 'Umri yaitu takdir sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu Mas'ud, di mana janin yang sudah ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan ditetapkan mengenai 4 hal: (1) rizki, (2) ajal, (3) amal, dan (4) sengsara atau berbahagia.

(b) Takdir Tahunan yaitu takdir yang ditetapkan pada malam lailatul qadar mengenai kejadian dalam setahun. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (QS. Ad Dukhan [44]: 4). Ibnu Abbas mengatakan, "Pada malam lailatul qadar, ditulis pada ummul kitab segala kebaikan, keburukan, rizki dan ajal yang terjadi dalam setahun." (Lihat Ma'alimut Tanzil, Tafsir Al Baghowi)

Seorang muslim harus beriman dengan takdir yang umum dan terperinci ini. Barangsiapa yang mengingkari sedikit saja dari keduanya, maka dia tidak beriman kepada takdir. Dan berarti dia telah mengingkari salah satu rukun iman yang wajib diimani.

Salah dalam Menyikapi Takdir

Dalam menyikapi takdir Allah, ada yang mengingkari takdir dan ada pula yang terlalu berlebihan dalam menetapkannya.

Yang pertama ini dikenal dengan Qodariyyah. Dan di dalamnya ada dua kelompok lagi. Kelompok pertama adalah yang paling ekstrem. Mereka mengingkari ilmu Allah terhadap segala sesuatu dan mengingkari pula apa yang telah Allah tulis di Lauhul Mahfuzh. Mereka mengatakan bahwa Allah memerintah dan melarang, namun Allah tidak mengetahui siapa yang taat dan berbuat maksiat. Perkara ini baru saja diketahui, tidak didahului oleh ilmu Allah dan takdirnya. Namun kelompok seperti ini sudah musnah dan tidak ada lagi.

Kelompok kedua adalah yang menetapkan ilmu Allah, namun meniadakan masuknya perbuatan hamba pada takdir Allah. Mereka menganggap bahwa perbuatan hamba adalah makhluk yang berdiri sendiri, Allah tidak menciptakannya dan tidak pula menghendakinya. Inilah madzhab mu'tazilah.

Kebalikan dari Qodariyyah adalah kelompok yang berlebihan dalam menetapkan takdir sehingga hamba seolah-olah dipaksa tanpa mempunyai kemampuan dan ikhtiyar (usaha) sama sekali. Mereka mengatakan bahwasanya hamba itu dipaksa untuk menuruti takdir. Oleh karena itu, kelompok ini dikenal dengan Jabariyyah.

Keyakinan dua kelompok di atas adalah keyakinan yang salah sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya adalah firman Allah (yang artinya), "(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At Takwir [81]: 28-29). Ayat ini secara tegas membantah pendapat yang salah dari dua kelompok di atas. Pada ayat, "(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus" merupakan bantahan untuk jabariyyah karena pada ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak (pilihan) bagi hamba. Jadi manusia tidaklah dipaksa dan mereka berkehendak sendiri. Kemudian pada ayat selanjutnya, "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam" merupakan bantahan untuk qodariyyah yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri sendiri dan diciptakan oleh dirinya sendiri tanpa tergantung pada kehendak Allah. Ini perkataan yang salah karena pada ayat tersebut, Allah mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya.

Keyakinan yang Benar dalam Mengimani Takdir

Keyakinan yang benar adalah bahwa semua bentuk ketaatan, maksiat, kekufuran dan kerusakan terjadi dengan ketetapan Allah karena tidak ada pencipta selain Dia. Semua perbuatan hamba yang baik maupun yang buruk adalah termasuk makhluk Allah. Dan hamba tidaklah dipaksa dalam setiap yang dia kerjakan, bahkan hambalah yang memilih untuk melakukannya.

As Safariny mengatakan, "Kesimpulannya bahwa mazhab ulama-ulama terdahulu (salaf) dan Ahlus Sunnah yang hakiki adalah meyakini bahwa Allah menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan hamba. Dan hambalah yang menjadi pelaku perbuatan yang dia lakukan secara hakiki. Dan Allah menjadikan hamba sebagai pelakunya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah" (QS. At Takwir [81]: 29). Maka dalam ayat ini Allah menetapkan kehendak hamba dan Allah mengabarkan bahwa kehendak hamba ini tidak terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Inilah dalil yang tegas yang dipilih oleh Ahlus Sunnah."

Sebagian orang ada yang salah paham dalam memahami takdir. Mereka menyangka bahwa seseorang yang mengimani takdir itu hanya pasrah tanpa melakukan sebab sama sekali. Contohnya adalah seseorang yang meninggalkan istrinya berhari-hari untuk berdakwah keluar kota. Kemudian dia tidak meninggalkan sedikit pun harta untuk kehidupan istri dan anaknya. Lalu dia mengatakan, "Saya pasrah, biarkan Allah yang akan memberi rizki pada mereka". Sungguh ini adalah suatu kesalahan dalam memahami takdir.

Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengimani takdir-Nya, di samping itu Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita bermalas-malasan. Apabila kita telah mengambil sebab, namun kita mendapatkan hasil yang sebaliknya, maka kita tidak boleh berputus asa dan bersedih karena hal ini sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: 'Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu', tetapi katakanlah: 'Qodarollahu wa maa sya'a fa'al' (Ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena ucapan'seandainya' akan membuka (pintu) setan." (HR. Muslim)

Buah dari Beriman kepada Takdir

Di antara buah dari beriman kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hati menjadi tenang dan tidak pernah risau dalam menjalani hidup ini. Seseorang yang mengetahui bahwa musibah itu adalah takdir Allah, maka dia yakin bahwa hal itu pasti terjadi dan tidak mungkin seseorang pun lari darinya.

Dari Ubadah bin Shomit, beliau pernah mengatakan pada anaknya, "Engkau tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak akan menimpamu. Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Takdir itu demikian. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak beriman seperti ini, maka dia akan masuk neraka." (Shohih. Lihat Silsilah Ash Shohihah no. 2439)

Maka apabila seseorang memahami takdir Allah dengan benar, tentu dia akan menyikapi segala musibah yang ada dengan tenang. Hal ini pasti berbeda dengan orang yang tidak beriman pada takdir dengan benar, yang sudah barang tentu akan merasa sedih dan gelisah dalam menghadapi musibah. Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk sabar dalam menghadapi segala cobaan yang merupakan takdir Allah.

Ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga serta perkataan dan amalan yang mendekatkan kami kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka serta perkataan dan amalan yang dapat mengantarkan kami kepadanya. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu, jadikanlah semua takdir yang Engkau tetapkan bagi kami adalah baik. Amin Ya Mujibbad Da'awat. [Sumber rujukan utama: [1] Al Irsyad ila Shohihil I'tiqod, Syaikh Fauzan Al Fauzan, [2] Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin]

***

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja'ah: Ustadz Aris Munandar

pre-blogging

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Setelah sekian lama off dari nge-blog, kangen rasanya untuk terjun kembali ke dunia maya. Tunggu contents yang akan saya sajikan. Semoga akan bermanfaat bagi pembaca semua, dan bagi diri saya sendiri terutama.
Selamat bergabung dan share our ideas.